LIFE!


What's on your mind?
What’s on your mind?

 

What’s on your mind? Yeah! What?

Life is unique, right?

Menikmati hidup adalah momen yang sangat sangat membahagiakan. Keunikannya menambah keistimewaan sebuah kehidupan. Pernahkah kau merasa bahwa hidupmu sempurna? Pernahkah kau merasa bahwa hidupmu sia-sia? Tidak ada yang perlu diragukan, hiduplah dengan apa adanya dirimu, karena hidup itu unik, hidup itu luar biasa, nikmatilah hidupmu. Karena, kita hanya seorang manusia!

Kehidupan adalah hal dimana kita sedang melalui fase-fase menuju kesempurnaan manusia yang seutuhnya. (@arifsp)

Apa arti hidup atau kehidupan menurutmu?

Share via twitter, facebook, or leave a message here! Thanks 🙂

 

Film Horor di Indonesia


Dewasa ini, industri film indonesia terutama film horor sangat berkembang pesat. Namun seiring dengan perkembangannya, kualitas dari film horor di Indonesia semakin menurun. Beragam tema film horor bermunculan menghiasi bioskop-bioskop tanah air. Bahkan, kampanye film horor ini mulai disebarluaskan melalui media dan dimodifikasi dalam berbagai bentuk.

Coba perhatikan film-film horor yang beredar di bioskop belakangan ini (Suster Keramas, Hantu Puncak Datang Bulan, Misteri Hantu Selular, dll), hampir semuanya menawarkan hasrat seksual bagi penonton. Bahkan, tak tanggung-tanggung, artis film porno luar negeri pun ikut didatangkan dan membintangi beberapa film, sebut saja Maria Ozawa, Sora Aoi, dan Rin Sakuragi.

Semakin maraknya industri film horor ini, diiringi pula oleh diskursus publik yang juga tak luput dari banyak kontroversi. Ada saja yang menolak produksi film jenis ini, tapi di lain sisi ada pula yang berselera dan tetap menonton film bergenre seperti ini. Dalam konsep libidonomics yang dipopulerkan oleh Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Dunia yang Dilipat, Libidonomics dalam industri film horor, secara sederhana merupakan bagian dari upaya mengartikulasikan energi seksual yang tabu dalam sistem sosial kita menjadi sebentuk seni hiburan yang bertujuan mendongkrak kumulasi ekonomi bagi industri tersebut. Jadi, semakin banyak energi libido yang ditawarkan pada publik, semakin tinggi pula pundi-pundi pendapatan pengelolah industri. Logika kapitalisnya, jika produksi film horor terus meningkat, maka selera pasar pun bisa ditebak yakni begitu antusias. (sumber: Kompas)

Semakin hari, semakin banyak film-film horor (dan porno) dan menggeliat di hadapan masyarakat. Tanpa mempedulikan kualitas filmnya, sekedar menghibur adalah kekuatan para pembuat film dalam menyuguhkan tayangan film yang justru tidak baik bagi masyarakat. Sebagai upaya perbaikan citra, sejatinya industri film horor tidak menekankan pada signifikansi pencapaian kumulasi ekonomi saja, namun juga ikut memperhatikan nilai-nilai sosial, moral, dan budaya bangsa kita. Seharusnya industri film, ikut memperkuat sosial budaya kita, bukan melemahkan apalagi menghancurkannya.

Mudah-mudahan dalam waktu dekat akan bermunculan film-film berkualitas, film bergenre horor tidak masalah, namun haruslah yang berkualitas dan menjunjung nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Jangan sampai moral bangsa tercoreng hanya karena perbuatan segelintir orang yang berniat memodifikasi kehidupan masyarakat melalui film yang tidak berkualitas dan tidak layak.