Malpraktik TV. Siapa yang salah?


Sebenarnya siapa yang salah sih kalau di TV ada tayangan/program ‘jelek’ gak mendidik buat masyarakat yang nonton? Pemilik TV? Direktur? Kru program? Artis/Pengisi Acara? KPI? DPR? Presiden? Rakyat? Siapa sih? Mari kita bingung.

Pertama. pemilik media/TV. Jauh sih hubungannya sama isi dan program TV. Tapi masih ada kepentingan tertentu yang bisa dilakukan pemilik sebagai wujud interpensi. Ada yang bilang wajar, gak wajar, terserah. Yang pasti, bang Ade Armando pas kuliah pernah bilang, frekuensi TV itu milik publik, atau milik rakyat, so kalo anda pinjam frekuensi harusnya hormat sama publik. Begitukan ya? *gakpede* *ikut kuliah lagi*

Kedua, Direktur dkk. Hmm, setidaknya dia tau lah seluk beluk program-program TV-nya. Orang-orang yg jadi direktur ini harusnya orang baik, karna dia punya power, setidaknya dia bisa membuat keputusan. Manfaatkan dengan baik harusnya.

Ketiga, Kru program. Nah, ntah kenapa saya justru berat disini. No offense, menurut saya orang inilah yg harusnya bertanggung jawab penuh atas isi programnya. Si pembuat ide, eksekutor, dan lainya (kurang tau hierarki di dunia pertelevisian). Misalnya nih, lo buat ide, lo brainstorming ama kru lainnya. Lo yang tau acara lo mau gimana, dan mungkin lo juga tau efek dari acara lo, DAN lo juga harusnya tau DAMPAK syukur-syukur positif, nah kalo NEGATIF, di kehidupan masyarakat. Setau gue sih, ada teori social learning, mungkin efek dari yang diliat penonton itu gak muncul sekarang nih, bisa aja mendem di otak, trus suatu saat di kondisi tertentu bisa aja efeknya baru muncul. Apalagi di dukung lingkungan sekitar yang biasanya dari persepsi individu berubah jadi kolektif, jadilah persepsi bersama. Yaelah ngomongin apa sih? Hhaha. Ntah deh.

Keempat, Artis/Pengisi Acara. Ini juga nih, salah satu yang mempengaruhi juga. Lo yang diliat, lo yang didengar, lo juga mungkin yang ditiru. Bebannya berat pak, buk? Yaiyalah. Trus, gak mau mikirin? Ke laut aja. Hhe. Harusnya mereka tau beban merennnka biar ntar kalo berekspresi dan bereksperimen di TV gak sembarangan dan ngerti baik buruknya. Bukan malah egois nge-hibur yg penting dapet duit, terkenal, dan gak mikirin udah buat baik atau buruk untuk ditonton penonton. Setuju gak sih? Atau ngerti gak sih sebenernya? Jujur aja kali, udah ngomong sejauh ini takutnya sia-sia gitu. Capek gue. Hha (derita lo kali rip, siapa suruh lo bego? Hha)

Kelima, KPI. Satu aja sih buat KPI, kerjanya udah cukup baik menurut saya. Tapi powernya aja yg masih agak kurang. Jadinya nanggung kayak makan ubi gak buang angin (?) (heh? Hubungannya apa rip? Gila lu?). Pokoknya pengennya KPI itu bisa ngelarang, nutup, negur, nonjok, mukul, injek, nutup program, nutup TV, nurunin Dirut, nurunin pemilik TV, nurunin Presiden… (yang ini udah kelewatan, gak penting)

Keenam, DPR & Presiden. Cuma mau bilang, pikirkan rakyat kalian. Hidup itu bukan cuma uang, negara, luar negeri, partai, dll. Pikiran hal yang sebenarnya adl masalah besar buat masyarakat. TONTONAN MASYARAKAT!!! Extra kerja keras sih, tapi ini harus, kalo gak? Kalo gak? KALO GAK??? Ya gpp!

Ketujuh, Rakyat/Penonton. Yang ini kasian banget kita. Malah urusannya lebih lama, kerjaannya tambah bayak. Lo yg punya frekeunsi, lo yang berhak dpt tayangan bagus, lo yang berhak dihibur positif, tapi lo malah disuruh matikan TV sama sesuatu oknum. Okelah. Orang kaya saya yg sukanya nonton TV mungkin udah jadi korban malpraktik tontonan TV. Tapi untungnya saya bisa memilih dan memilah, atau nonton tapi bisa mikir ini baik atau buruk, trus kalo buruk langsung ngomel. Tapi buat orang lain? Saya sarankan memang jangan biarkan anak-anak anda menonton TV dengan bebasnya. Filter dulu. Itu tugas anda. Baru kasih jadwal nonton anak. Capek sih tapi harus.

Karena memang masalahnya kompleks, trus saya heran, kenapa anak-anak sekarang kurang akan kegiatan ya? Teutama di pelosok. Harusnya pemerintah bisa fasilitasi dgn olahraga, dll. Misalnya olahraga, kalo dari kecil udah tau olahraga, siapa tau udah gede jadi atlet. Nah, KONI gak capek lagi kan nyari-nyari atlet? Iyakan? (Diiye-in aja ya…)

Begitulah keluh kesah di tengah malam ini, sungguh bukan sok pinter, tapi memang sok tau. Cuma numpahin pikiran yg ada di otak doang, biar gak penuh.

Kalo ada yang mau diskusi malah boleh, yuk!
Thanks ya 🙂
Salam Anak-Anak!

Advertisements

Alur Mondar Mandir Acakadul


The older I get the less people I trust.

Mungkin pernyataan itu ada benarnya buat saya. Semakin tua berarti semakin dewasa, begitulah seharusnya. Semakin dewasa maka cara berpikir pun semakin luas. Semakin dewasa semakin banyak orang dikenal. Dan ketika berinteraksi dengan banyak orang, maka jalan berpikir kitapun mulai ‘diadu’. Seberapa lihai kita bisa menanggapi atau memahami suatu hal dan seberapa besar toleransi kita dalam menerima perbedaan dari setiap pikiran yang ada.

Ketika berinterkasi, kita mulai bisa menilai dan menerka orang. Tentu, dengan memformulasikan pengetahuan serta pengalaman (bertemu orang) yang selama ini sudah didapat. Selektif dalam memilih orang secara gak sadar kita lakukan. Tentu, anda tak mau kan salah bergaul? Atau salah memilih teman? Dikatain pilih-pilih teman? Biarin aja, bagi saya teman itu sudah automatic-filtering di kehidupan kita. Kita tidak memilih secara langsung namun sebutlah kata hati yang memilihnya. Nah, itu artinya pilih-pilih teman kan? Apa? Masih enggak? Yah terserahlah, definisi kita mungkin berbeda.

Lalu, apa hubungannya tua, dewasa, orang, teman, dan satu kata ‘percaya’? Nah, menurut pengetahuan saya, kedewasaan setelah semakin tuanya seseorang dalam berinteraksi seperti mencari teman, dia akan terus mencoba menemukan hal terbaik dan terburuk dari hasil pengamatan yang tak biasa (kehidupan yang dijalani tanpa rekayasa).

Seiring waktu ketika interaksi berisi cerita, canda tawa, kesenangan dan kesedihan, suka duka, kebohongan dan kejujuran, pada saat tingkatan ituah kita mulai menilai bagaimana paras sesungguhnya seseorang yang anda kenal. Ada yang pernah bilang, tidak ada orang yang berubah, yang ada hanyalah semakin menunjukkan jati dirinya. Yah, tergantung anda menilainya.

Orang atau teman yang tak baik (secara sifat) bukan berarti musuh loh, malah kadang kita harus tetap berinteraksi dengan orang-orang tersebut. Kenapa? Alasan utamanya adalah karna kita juga belum tentu juga baik, sederhana saja. HAHA, ya karena bersosialisasi itu baik, pada siapa saja. Tapi untuk orang-orang spesial dihidup anda, belum tentu!

Sesuai judulnya, cerita ini mondar mandir acakadul gak karuan, karena memang pada saat menulisnya juga dalam kondisi yang tidak strategis, penuh desakan (bukan BAB), dan disponsori oleh salah satu akun di twitter yang mem-posting pernyataan itu tadi yang kemudian kepikiran ‘ih.. ini gue banget!!!‘.

Intinya, ketika anda tau orang sudah menunjukkan gelagat tak baik, anda akan mencoba menjauhi tapi tetap berhubungan baik (jika terpaksa harus bertemu). Oleh karna itulah, semua orang yang anda kenal akibat interaksi setelah terjadinya pengamatan tak biasa  yang kemudian telah melewati automatic-filtering di dalam pikiran dan kehidupan dan menjadikan anda mengurangi rasa kepercayaan anda kepada orang. Trus kalo semakin sedikit orang yang dipercaya? Ya berarti memang orang yang terpercaya itu sedikit di dunia. Ah masak? Lah, buktinya ini…

Hahahhaa becanda deng, pasti akan ada orang yang anda percaya nantinya, walaupun sedikit tapi sangat berharga. Lebih baik sedikit orang namun baik daripada banyak namun menyakiti, begitukan? Asiiiiik. Hal ini tentunya diperkuat kalo kata hati kita sendiri memang baik dan kita merasa menjadi orang baik dalam hal ini.

Sebenarnya tema ceritanya adalah hidup itu pilihan. Semua kembali pada pilihan. Pilihan untuk mempercayai pengalaman cerita ini, atau tidak. Lah, gitu? yaiyalah, emang mau gimana?

Kembalilah pada kenyataan manusia haruslah percaya kepada tuhannya, Allah SWT. Kalo kita yakin dan percaya kepada-Nya, dengan senang hati Sang Kuasa akan dengan senang hati memberikan orang-orang terbaik dan terpecaya di sekeliling kita. Itu saja. Nikmati kehidupanmu, jangan percaya tahayul, percaya sama Allah, cari teman terbaikmu, dan bersyukurlah atas nikmat dan cobaan. Sekian.

Sopir Pesawat


Duuuuh, kayak remaja ababil nih curhat-curhatan, topiknya cita-cita pula, grrrrr banget dah. Tapi, it’s ok lah!

Pake backsound Pesawaaaatku…. terbang ke bulaaaaan….. #np Pesawatku-Memes

Ini masih cerita tentang kehidupan. Seperti yang saya bilang kan sebelumnya, kehidupan itu unik, setiap orang memiliki kehidupan unik-nya masing-masing. Saya misalnya, bakal cerita tentang sesuatu. Di halaman About ada bagian Wishlist dimana saya memasukkan ‘Saya ingin bekerja di Maskapai/Penerbangan.’ Kenapa? Mari dengarkan cerita saya!

Kehidupan saya banyak dilakukan di kampung. Dulu waktu kecil saya sering mendengar suara gemuruh pesawat yang melintas di langit. Suaranya selalu terdengar dari rumah saya. Kalau tiba-tiba ada suara itu, saya langsung keluar dan berusaha melihat pesawatnya. Sebagai anak kecil, pasti masih terkagum-kagum sama kehebatan dan kemegahan pesawat, sampai sekarang juga masih kagum walau cukup sering menaikinya.

Itulah awal dari munculnya cita-cita pengen jadi Pilot (Sopir Pesawat :p). Pastinya setelah saya tau kalau pesawat itu dijalankan sama Pilot dan beberapa awak. Pilot? Hmm… sangat menarik dan saya terlalu berambisi untuk itu.

Mamah mungkin yang pertama tau kalau saya pengen jadi Pilot, sampai pada suatu saat saya pernah bilang ke Mamah. ‘Mah, kalau uta (panggilan rumah) jadi Pilot, nanti kalo pas pesawatnya terbang di atas rumah, uta turunkan oleh-oleh baju, celana, tas, buat mama’. Hahhaha, mamah saya hanya tertawa. Mungkin beliau speechless melihat anaknya yang terlalu ‘lebay’ ini, hha. Tapi, sampai sekarang kalau saya ingat itu saya selalu tertawa dan mikir kok dulu kepikiran kayak gitu ya, hha yah namanya juga anak kecil.

Selama saya SD, kalau ditanya apa cita-citamu? Pasti saya jawab Pilot! Pilot! Pilot! #PasukanPilotSampaiMati hha. Dan sampai saya lulus SD saya pun belum pernah naik pesawat, yaelah katanya mau jadi Pilot? Naik aja belum pernah, hha.

Sampailah ketika suatu kejadian yang tak disangka-sangka, tapi dampaknya luar biasa. Apa itu? ntarlah saya sambung lagi ceritanya. Oke!